Kereta Gantung Rinjani dan Keresahan Spiritual Sang Juru Kunci
Gunung Rinjani adalah salah satu gunung berapi tertinggi di Indonesia. Terletak di Pulau Lombok, Rinjani kokoh perkasa menjulang hingga 3.726 mdpl.
Dalam catatan spiritual Sayidina Muhammad (37), juru kunci Gunung Rinjani sejak 2009 silam, menyimpan perasaan pahit, atas rencana pembangunan kereta gantung yang bakal dimulai 2023 ini.
Kata Sayidina, keberadaan kereta gantung di atas punggung Rinjani bakal menodai kesakralan Gunung Rinjani. Disamping kata dia, akan mengakibatkan ekosistem Rinjani menjadi kotor dan rusak, dan secara langsung ataupun tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia sendiri.
Lanjut Sayidina, Rinjani sudah diciptakan oleh sang kuasa dengan fitrahnya yang indah, sehingga tersohor hingga jagat raya. Dari itu, tidak perlu lagi ada sentuhan manusia untuk memperindah Rinjani, terlebih lagi dengan membangun jembatan gantung, karena hal itu ia nilai menghakimi keindahan yang kuasa ciptakan.
“Gunung Rinjani adalah gunung sakral yang mengandung sejarah kehidupan turun temurun bagi manusia Sasak. Gunung Rinjani sudah sangat banyak memberikan keindahan bagi manusia tapi sepertinya Rinjani tidak akan cukup kuat untuk menampung keserakahan manusia jika terus menerus dikotori” kata dia belum lama ini.
Sayidina lanjut bertutur, semestinya di tahun 1444 H, manusia harusnya memperlakukan Rinjani dengan penuh tanggungjawab, dengan menjaga setiap jengkal tanah untuk kelestarian alam raya.
“Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan dengan tujuannya masing-masing dan diatur oleh hukum adat, hukum alam, hukum kehidupan, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak,”
Dari itu lanjut dia, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab untuk menjaga dan menyayangi serta untuk tidak menyakiti alam semesta sebagaimana menjaga ibu bapak mereka.
“Kecuali ia adalah anak-anak yang ingkar, dan sungguh azab Allah itu sangatlah pedih,” tekannya.
Lanjut dia bertanya, jika kereta gantung Gunung Rinjani dibangun apakah wajah alam akan tetap bertahan dengan keasliannya? Apakah gunung yang dijaga dengan ritual dan doa-doa sakral mau menerima keinginan manusia ini?
Bagaimana jika hal-hal tidak diinginkan bisa saja terjadi seperti bencana-bencana alam di tubuh Gunung Rinjani sendiri, lalu siapa? Kata dia, yang akan bertanggung jawab pada ummat yang banyak yang hidup di sekitar Gunung rinjani.
“Apakah kemauan manusia untuk merubah wajah dan tubuh alam Gunung Rinjani itu sama dengan tidak akan mendzolimi alamnya sendiri. dan maka tidak akan merubah kemungkinan alam akan melahirkan kesedihan bagi banyak penghuninya, akan banyak kesedihan yang akan menimpa ummat, khususnya Lombok, jikalau Gunung Rinjani dipreteli seperti itu,” ungkanya sesal.
Kendati demikian, harus diingat tegas dia, Gunung Rinjani ia yakini sebagai pasak alam semesta.
Hal itu karena, lletaknya berada di tengah-tengah Pulau Lombok, Rinjani juga dia sebut merupakan sumber mata air bagi kehidupan dan sumber api yang dapat membahayakan setiap penghuninya.
“Jika setiap kita tidak peduli dengan habblumminal alam, hubungan manusia dengan alam, saling menjaga kelestariannya, maka bencana akan tiba,” ungkapnya lirih.
Sayidina mempunyai kekhawatiran, jika proyek kereta gantung terus dipaksakan,cepat atau tidak akan kembali terjadi petaka seperti yang sudah-sudah.
“Jangan sampai kondisi Rinjani kedepan sama seperti tahun 2015, aktivitas letusan Gunung Baru Jari. Menurut prediksi spiritual para pemangku adat. Kabar tersebut sempat kami sampaikan ke TNGR, namun kata pihak sana berpacu pada teknologi alat pemantau, gunung tersebut masih tinggal 5 sampai tujuh tahunan untuk aktif lagi,” ungkapnya.
“Kami bilang, lihat saja. Apa yang diinginkan alam. Karena tidak semua alat teknologi dan ilmu pengetahuan manusia dapat mengatur gerak alam. Nyatanya seminggu kemudian Gunung Baru Jari itu meletus,” tandasnya. (SNR)

Comments
Post a Comment